Manfaat Infus Beserta Rumus Tetesan Infus Mikro dan Makro untuk Pasien

Untuk menetahui rumus tetesan infus, kalian terlebih dahulu harus mengetahui volume cairan, durasi waktu pemberian, dan faktor tetes. Kalian pun bisa mempelajarinya sendiri. Mengetahui cara menghitung tetesan infus yang diperlukan sesuai kebutuhan pasien sama pentingnya dengan memahami jenis dan dosis obat yang harus diberikan kepada pasien agar cepat sembuh.

Tugas ini biasanya dilakukan oleh tenaga medis yang memantau kondisi kalian. Namun, sebagai pasien pun tidak ada salahnya bagi untuk mempelajari teknik dasar ini dengan perhitungan sederhana.

Pengertian Infus

Infus atau terapi intravena adalah pemasukan suatu cairan atau obat ke dalam tubuh melalui rute intravena dengan laju konstan selama periode waktu tertentu. Infus dilakukan untuk seorang pasien yang membutuhkan obat sangat cepat atau membutuhkan pemberian obat secara pelan, tetapi terus-menerus.

Pemberian obat atau cairan ke dalam tubuh melalui mulut akan memasuki proses pencernaan terlebih dahulu, sehingga tidak dengan cepat diserap oleh tubuh. Saat proses pencernaan, juga dimungkinkan ada enzim pencernaan yang akan mengubah atau memecah obat yang diminum, sehingga akan kurang efektif dan lebih baik jika langsung masuk ke dalam aliran darah melalui infus.

Infus dilakukan dengan cara memasukkan sebuah jarum kecil ke alirah pembuluh darah. Biasanya, jarum ditanam di dekat siku-siku, pergelangan tangan, atau di bagian punggung tangan pasien. Selain di bagian tangan, infus juga dapat dipasang di bagian kaki. Kecepatan pasien menyerap cairan infus tergantung dari keadaan tubuh pasien dan penyakit yang diderita. Jumlah tetesan cairan infus setiap menitnya akan dipantau oleh seorang perawat dengan menggunakan rumus tetesan infus yang akan dijelaskan di bagian selanjutnya.

Tujuan Infus

Tujuan pemberian infus dibedakan berdasarkan cairan yang diberikan. Adapun dua jenis cairan tersebut meliputi:

1. Cairan Kristaloid

Jenis cairan ini mengandung natrium klorida, natrium glukonat, natrium asetat, kalium klorida, magnesium klorida dan glukosa. Umumnya diberikan untuk menjaga keseimbangan elektrolit, menghidrasi tubuh, mengembalikan pH dan sebagai resusitasi cairan.

Tiga jenis yang termasuk ke dalam cairan kristaloid, yaitu:

  • Cairan saline, yaitu di dalamnya mengandung natrium dan clorida sebanyak 0,9%.
  • Ringer laktat, yaitu di dalamnya mengandung kalium, kalsium, laktat, natrium, air, dan clorida.
  • Dextrose, yaitu di dalamnya mengandung gula sederhana guna meningkatkan kadar gula darah pasien hipoglikemia (gula darah rendah).

2. Cairan Koloid

Cairan ini memiliki kandungan molekul lebih berat ketimbang kristaloid. Cairan koloid diberikan kepada pasien yang mengidap sakit kritis, operasi berat, dan sebagai resusitasi cairan.

Tiga jenis yang termasuk ke dalam cairan koloid, yaitu:

  • Gelatin, yaitu di dalamnya mengandung protein hewani guna mencegah berkurangnya volume darah di dalam tubuh.
  • Albumin, yaitu di dalamnya mengandung albumin guna menggantikan kadar yang hilang akibat operasi, luka berat, atau sepsis.
  • Dekstran, yaitu di dalamnya mengandung polimer glukosa guna meningkatkan proses pemulihan pasien yang kehilangan banyak darah.

Manfaat Infus

Metode ini diberikan pada pasien yang mengalami kekurangan elektrolit dan cairan tubuh akibat dehidrasi. Infus juga diberikan pada pasien yang tidak bisa makan dan minum serta asupan nutrisi yang tak terpenuhi.

Kapan Harus Melakukan Infus?

Tak semua penyakit membutuhkan infus. Metode ini hanya dibutuhkan kepada pasien dengan kondisi darurat yang mengharuskan obat masuk ke dalam tubuhnya secara cepat. Beberapa kondisi tersebut termasuk serangan jantung, keracunan, atau stroke.

Beberapa kondisi yang disebutkan sebelumnya tidak memungkinkan minum obat lewat mulut karena membutuhkan waktu lebih lama untuk diserap ke aliran darah. Ini bisa menyebabkan perburukan penyakit yang dialami. Infus juga dibutuhkan ketika pasien mengalami muntah-muntah dan diare hingga kehilangan banyak cairan tubuhnya. Dengan infus, proses pergantian elektrolit dan cairan menjadi lebih cepat.

Adapun kondisi yang membutuhkan pemberian infus, antara lain:

  • Dehidrasi parah.
  • Keracunan makanan.
  • Stroke.
  • Serangan jantung.
  • Gangguan sistem imun.
  • Infeksi.
  • Pemberian obat kemoterapi.
  • Peradangan kronis.

Prosedur infus:

Pertama-tama, tim medis akan menentukan jenis infus yang akan diberikan kepada pasien. Selanjutnya, infus disuntikkan melalui kulit yang sudah dibersihkan terlebih dulu ke dalam pembuluh darah. Pemberian infus harus dilakukan oleh tim medis berpengalaman. Metode ini bisa dilakukan di penyedia layanan kesehatan atau klinik. Jika ingin melakukannya, silakan buat janji rumah sakit untuk melakukan prosedur.

Persiapan Cara Menghitung Tetesan Infus

Untuk mempelajari cara menghitung tetesan infus ini, kalian harus menyiapkan peralatan dasar seperti jarum dan alat suntik untuk mengeluarkan obat atau cairan dari botol. Selain itu, flush juga dibutuhkan untuk mendorong obat ke dalam tubing intravena atau kantong cairan.

Ada dua metode pemberian cairan infus, yang dikenal juga dengan sebutan faktor tetes, yaitu set makro dan set mikro.

1. Set Makro

Untuk memberikan 1 mL cairan infus, dalam proses pemasangan infus, perawat akan membuka lubang tetesan infus dengan diameter yang lebih besar, sehingga tetesan yang keluar juga berjumlah lebih sedikit, yakni hanya 10-20 tetes.

2. Set Mikro

Untuk memberikan 1 ml cairan infus, lubang tetesan infus hanya dibuka sedikit, sehingga jumlah tetesan yang keluar juga lebih banyak, yakni 45–60 tetes.

Penentuan set makro atau mikro akan tergantung preferensi dan kebutuhan sesuai instruksi dokter. Namun demikian, standar yang biasanya digunakan tergantung dari jenis cairan yang harus dimasukkan ke dalam tubuh kalian. Jika cairan tersebut bening dan encer, perawat mungkin memasang infus dengan jumlah 20 tetes/1 mL. Sementara itu, jika cairan infus lebih kental seperti darah, kalian mungkin akan mendapat 15 tetes/1 mL.

Faktor Tetes Infus

1. Macro Drip Factor (Faktor Tetes Makro)

Macro drip yang digunakan di Indonesia hanya ada dua. Tergantung dari merek infus set dan faktor tetesnya. Untuk infus set merek Otsuka, faktor tetes yang digunakan adalah 15 tetes/ml, sedangkan untuk infus set merek Terumo, faktor tetes yang digunakan adalah 20 tetes/ml.

Untuk faktor tetes 10 tetes/ml, jarang digunakan di Indonesia. Namun, biasanya dapat ditemui di rumah sakit umum pusat, rujukan nasional, dan rumah sakit pendidikan. Faktor tetes makro biasanya digunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan cairan untuk dewasa. Untuk transfusi darah juga biasanya digunakan faktor tetes 15 tetes/ml.

2. Micro Drip Factor (Faktor Tetes Mikro)

Berbeda dengan dewasa, anak dengan berat badan kurang dari 7 kg membutuhkan infus set dan faktor tetes yang berbeda. Biasanya, untuk anak digunakan faktor tetes yang disebut dengan micro drip, yaitu 60 tetes/ml.

Rumus Tetesan Infus

Pada pemberian tetesan infus dengan mesin otomatis, perawat tinggal melakukan input jumlah cairan yang harus masuk ke tubuh kalian dan waktu yang diperlukan untuk memasukkannya ke dalam tubuh. Sementara itu, jika cairan infus dimasukkan secara manual, cara menghitung tetesan infus dilakukan dengan mengetahui jumlah tetesan per menit (TPM).

Rumus perhitungan TPM sendiri, yaitu:
(faktor tetes x volume cairan) / (60 x lama pemberian dalam jam)

Faktor tetes merupakan salah satu elemen yang penting dalam cara menghitung tetesan infus yang perlu diketahui oleh tenaga medis. Seperti dijelaskan di atas, perawat bisa memilih set makro atau mikro. Sebagai contoh, dokter menginstruksikan agar pasien menerima 500 mL cairan infus dalam kurun 8 jam, sementara faktor tetes yang ditetapkan adalah 20. Dengan data ini, cara menghitung tetesan infus yang harus diberikan kepada pasien, yait:

(500 x 20) / (60 x 8) = 20,83.

Artinya, kalian akan mendapat sekitar 20–21 tetes cairan infus dalam 1 menit sebelum cairan di kantong infus habis dan diganti dengan yang baru.

Mengenal Jenis Cairan Infus

Setelah mengetahui cara menghitung dan rumus tetesan infus, penting juga bagi kalian untuk mengenali jenis cairan infus itu sendiri. Berdasarkan kegunaannya, jenis cairan infus sendiri dibagi menjadi empat kelompok, yaitu cairan pemeliharaan, cairan pengganti, cairan khusus, dan cairan nutrisi.

1. Cairan Pemeliharaan

Cairan infus ini biasanya diberikan untuk pasien yang tidak bisa memenuhi kebutuhan elektrolit, tetapi belum berada pada tahap kritis atau kronis. Tujuan pemberian cairan ini adalah menyediakan cukup cairan dan elektrolit untuk memenuhi insensible losses (500–1000 mL), mempertahankan status normal tubuh, dan memungkinkan ekskresi ginjal dari produk-produk limbah (500–1500 mL).

Baca Juga :  Pengertian Nekrosis, Gejala, Penyebab, dan Cara Pengobatan

Jenis cairan infus yang dapat digunakan adalah NaCl 0,9%, glukosa 5%, glukosa salin, dan ringer laktat atau asetat. Pemberian cairan infus ini tetap harus dengan rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten.

2. Cairan Pengganti

Cairan infus ini diberikan kepada pasien dengan kekurangan elektrolit serta permasalahan redistribusi cairan internal. Cairan ini biasanya diperlukan pasien yang mengalami masalah saluran pencernaan (ileostomy, fistula, drainase nasogastrium, dan drainase bedah), atau saluran kencing (misalnya saat pemulihan dari gagal ginjal akut).

3. Cairan Khusus

Cairan khusus yang dimaksud adalah kristaloid semisal natrium bikarbonat 7,5% atau kalsium glukonas. Tujuan pemberian cairan infus ini adalah meredakan gangguan keseimbangan elektrolit yang terjadi di tubuh.

4. Cairan Nutrisi

Ketika pasien tidak mau makan, tidak boleh makan, atau tidak dapat makan melalui mulut, cairan infus berisi nutrisi inilah yang akan dimasukkan ke dalam tubuh. Cairan nutrisi ini diberikan jika pasien mengalami:

  • Gangguan penyerapan makanan, seperti fistula enterokunateus, atresia intestinal, kolitis infektiosa, maupun penyumbatan usus halus.
  • Kondisi yang mengharuskan usus beristirahat, seperti pada pankreatitis berat, status preoperatif dengan malnutrisi berat, angina intestinal, stenosis arteri mesenterika, dan diare berulang.
  • Gangguan motilitas usus, seperti ileus yang berkepanjangan, pseudo-obstruksi, dan skleroderma.
  • Gangguan makan, muntah terus-menerus, gangguan hemodinamik, dan hiperemesis gravidarum.

Apa pun jenis cairannya, cara menghitung tetesan infus tetap sama, yakni menggunakan rumus tetesan infus per menit (TPM).

Contoh Soal Menghitung Tetesan Infus Makro

Soal 1
Pasien A bermaksud diberikan cairan NaCl 0,9% sebanyak 250 cc dalam 2 jam. Diketahui faktor tetes infusan adalah 15 tetes/menit. Jumlah tetesan per menit (TPM) adalah ….

Jawab:

TPM = (kebutuhan cairan x faktor tetes makro)/(lama pemberian x 60 menit)
TPM = (250 x 15)/(2×60)
TPM = 3750/120
TPM = 31,25
TPM = 32 tetes/menit (pembulatan)

Soal 2
Pasien B bermaksud diberikan cairan NaCl 0,9% sebanyak 250 cc dalam 10 jam. Diketahui faktor tetes infusan adalah 60 tetes/menit. Jumlah tetesan per menit (TPM) adalah ….

Jawab:

TPM = (kebutuhan cairan x faktor tetes makro)/(lama pemberian x 60 menit)
TPM = (250 x 60)/(10×60)
TPM = 15000/600
TPM = 25
TPM = 25 tetes/menit

Soal 3
Cairan yang tersedia 500 cc harus habis dalam 10 jam. Berapakah jumlah tetesan setiap menitnya?

Jawab :

TPM = (kebutuhan cairan x faktor tetes makro)/tetesan yang ditentukan (jam) x 60 menit
TPM = (500 x 20)/(10 x 60)
TPM = 16,6
TPM = 17 tetes/menit (pembulatan)

Soal 4
Cairan yang tersedia 500 cc harus habis dalam 12 jam. Berapakah jumlah tetesan setiap menitnya?

Jawab :

TPM = (kebutuhan cairan x faktor tetes mikro)/(waktu yang ditentukan (jam) x 60 menit
TPM = (500 x 60)/(12 x 60)
TPM = 41,6 tetes/menit
TPM = 60 detik/41,6 tetes
TPM = 1,4 (1 tetes tiap 1,4 detik)

Soal 5
Cairan yang tersedia 500 cc NaCl 0,9%. Diberikan dengan titrasi infus 40 tetes/menit. Berapa jam yang dibutuhkan sampai cairan tersebut habis?

Jawab :

TPM = (kebutuhan cairan x faktor tetes mikro)/(tetesan yang ditentukan (jam) x 60 menit
TPM = (500 x 60)/(40 x 60)
TPM = 12, 5 jam

Itulah artikel terkait “Manfaat Infus Beserta Rumus Tetesan Infus Mikro dan Makro untuk Pasien” yang bisa kalian gunakan sebagai referensi.