Fase Luteal Adalah: Pengertian, Cara Menghitung, dan Pengaruh Fase Luteal

Ketika memasuki masa pubertas biasanya akan ada banyak perubahan yang mulai dirasakan oleh para wanita. Mulai dari pembersaran payudara hingga mensturasi. Semua hal tersebut akan terjadi secara alami dan menjadi tanda jika tubuh Anda sudah siap untuk menjalankan fungsi reproduksi.

Menstruasi merupakan fase yang bisa menjadikan wanita akan merasakan sedikit kebingungan. Biasanya, bagi mereka yang baru pertama kali mendapatkan masa menstruasi, mereka akan kaget karena ada darah yang keluar dari bagian vagina miliknya.

Menstruasi atau haid yang biasa disebut sebagai datang bulan kerap terjadi karena luruhnya dinding rahim yang disertai dengan endometrium. Nah, di dalam menstruasi sendiri akan ada beberapa fase yang harus dilewati oleh seorang wanita, salah satunya adalah fase luteal.

Lalu, apakah kamu sudah tahu tentang fase luteal? Nah, untuk lebih memahami apa itu fase luteal, maka penjelasan yang ada di bawah ini bisa membantu Anda.

Apa Itu Fase Luteal?

Sebelum membahas tentang fase luteal lebih jauh, hal pertama yang akan kita bahas adalah pengertian dari fase luteal itu sendiri. Seperti yang dijelaskan sebelumnya jika fase luteal adalah salah satu tahap pada siklus menstruasi yang terjadi pada wanita.

Fase luteal akan terjadi ketika ovulasi atau indung telur melepaskan sel terus dan sebelum haid dimulai. Pada rentang waktu tersebut, lapisan rahim akan lebih menebal untuk bisa mempersiapkan kemungkinan kehamilan.

Jika Anda memiliki gangguan fase luteal, maka biasanya lapisan tersebut tidak akan tumbuh dengan baik setiap bulannya. Hal ini mungkin akan menjadikan para wanita lebih sulit untuk mendapatkan kehamilan.

Penting bagi setiap wanita untuk lebih memahami fase luteal, khususnya bagi mereka yang memang sedang menjalankan program kehamilan. Jadi, tetap simak artikel ini, sampai selesai, Grameds.

Cara Menghitung Fase Luteal

Fase luteal merupakan paruh kedua dari siklus menstruasi. Prosesnya adalah ketika folikel melepaskan sel telur, lalu sel telur bergerak ke tuba falopi hingga akhirnya bersentuhan dengan sperma dan dibuahi. Di mana folikel tersebut nantinya juga akan berubah.

Kantung kosong yang menutupi akan berubah menjadi kuning hingga membuat struktur baru yang disebut sebagai korpus luteum. Nantinya, korpus luteum akan melepaskan progesterone dan beberapa estrogen.

Progesterone tadi akan mengentalkan lapisan rahim wanita yang menjadikan sel telur yang telah dibuahi bisa ditanamkan. Pembuluh darah tumbuh di dalam lapisan dan akan memasukkan oksigen dan nutrisi pada embrio yang sedang mengalami perkembangan.

Ketika wanita hamil, maka tubuhnya akan memproduksi hCG atau human gonadotropin. Hormon ini berguna untuk memelihara korpus luteum. Adanya hCG memungkinkan korpus luteum untuk bisa melakukan produksi progesteron sampai pada minggu ke-10 kehamilan.

Selanjutnya, plasenta akan mengambil alis produksi progesterone. Pada kehamilan biasanya tingkat progesteron akan mengalami peningkatan. Namun, ketika wanita tidak hamil, maka selama fase ini korpus luteum akan mengalami penyusutan hingga mati menjadi jaringan perut kecil.

Ketika tingkat progesteron wanita mengalami penurunan, maka lapisan rahim akan turut meluruh selama masa menstruasi yang kemudian seluruh siklus akan berulang. Pada fase luteal akan mencakup beberapa fase penting guna mempersiapkan tubuh untuk kehamilan. Fase ini bisa memakan waktu lebih panjang atau lebih pendek dari biasanya jika memang ada suatu gangguan.

Maka dari itu, bagi para wanita, sebaiknya selalu dapat membuat jadwal fase luteal, agar bisa diketahui apakah sedang ada gangguan atau tidak. Gangguan pada fase luteal, akan dibahas pada pembahasan selanjutnya.

Gangguan Yang Mungkin Terjadi Pada Fase Luteal

Waktu yang dibutuhkan dalam fase luteal biasanya adalah sekitar 12 hingga 14 hari. Selama waktu tersebut, indung telur akan membuat hormon yang kerap disebut sebagai progesteron. Keberadaan dari hormone ini akan membantu untuk memberitahu lapisan rahim untuk tumbuh.

Ketika wanita sedang dalam kondisi hamil, bayi yang sedang berkembang akan menempel pada lapisan rahim yang telah menebal tersebut. Terkadang, ada gangguan fase luteal yang bisa terjadi ketika ovarium tidak melepaskan cukup progesteron atau tidak memberikan respon pada hormone tersebut.

Gangguan fase luteal bisa dalam kurun waktu panjang maupun pendek. Fase luteal yang singkat akan memerlukan waktu sekitar kurang dari 1-10 hari. Di mana jika terjadi fase ini, maka tidak ada kesempatan bagi lapisan rahim untuk mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam menopang bayi yang sedang tumbuh.

Karena kondisi inilah, wanita akan lebih sulit untuk mengalami kehamilan atau mungkin bisa membutuhkan waktu lama jika ingin memiliki anak. Sedangkan untuk fase luteal panjang bisa disebabkan kondisi ketidaksimbangan hormon PCOS atau polycytic ovary syndrome.

Penyebab Gangguan Fase Luteal

Mengetahui fase luteal, rasanya kurang lengkap apabila tidak mengetahui tentang penyebab gangguan fase luteal. Nah, pada poin ini, kita akan membahas tentang penyebab gangguan fase luteal.

Gangguan fase luteal bisa terjadi ketika ovarium gagal menghasilkan hormone progesterone dalam kadar cukup atau ketika lapisan rahim gagal melakukan respon terhadap kadar progesterone yang normal. Selain itu, teknologi reproduksi bantuan seperti IVF yang menggunakan hormon sebagai perangsang produksi telur juga bisa menyebabkan terjadi LPD atau Luteal Phase Defect.

Oleh karena itu, wanita yang sedang menjalani stimulasi ovarium akan menggunakan progesterone yang berguna untuk memastikan perkembangan dan pemeliharaan lapisan rahim yang tepat. Selain itu kondisi LPD bisa lebih memiliki kemungkinan besar terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor dan kondisi kesehatan tertentu seperti yang ada di bawah ini.

  1. Obesitas
  2. Melakukan olahraga secara berlebihan
  3. PCOS atau sindrom ovarium polikistik
  4. Stress
  5. Menyusui
  6. Masalah tiroid
  7. Hiperprolaktinemia

Selain itu, sebuah penelitian menjelaskan jika adanya disfungsi hormone pada fase folikuler awal juga bisa menyebabkan terjadinya gangguan fase luteal pada wanita dengan usia 30 hingga 44 tahun.

Gejala Gangguan Pada Fase Luteal

Kebanyakan wanita yang mengalami kondisi gangguan fase luteal memang tidak menunjukkan gejala apapun. Akan tetapi, beberapa kasus terkait dengan gangguan fase luteal menunjukkan beberapa gejala yang bisa Anda baca di bawah ini.

  1. Adanya pendarahan ringan atau spotting diantara dua siklus menstruasi
  2. Jangkauan waktu siklus menstruasi begitu pendek
  3. Mengalami kondisi sulit hamil walaupun sudah berusaha
  4. Adanya keguguran
  5. Kondisi kembung
  6. Mengalami sakit kepala
  7. Adanya pembengkakan payudara yang disertai dengan rasa nyeri
  8. Adanya perubahan suasana hati
  9. Adanya kondisi penambahan berat badan
  10. Adanya perubahan hasrat seksual
  11. Kondisi sulit tidur

Pengaruh Gangguan Fase Luteal Pada Peluang Kehamilan

Seperti apa yang dijelaskan sebelumnya jika gangguan fase luteal bisa menyebabkan wanita yang mengalaminya akan kesulitan untuk hamil atau membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa hamil.

Baca Juga :  Pengertian Fatigue, Gejala, dan Penyebabnya Secara Medis

Hal ini karena wanita ketika mengalami gangguan fase luteal, lapisan rahim miliknya tidak tumbuh dan berkembang dengan baik untuk mendukung perkembangan janin. Gangguan fase luteal juga bisa menyebabkan beberapa wanita tidak mengalami kondisi ovulasi. Itu artinya, tidak ada sel telur yang bisa dibuahi untuk menghasilkan kehamilan.

Cara Mengatasi Adanya Gangguan Fase Luteal

Pengobatan gangguan fase luteal juga tergantung dari kesehatan wanita yang mengalaminya. Apakah wanita tersebut sedang mencoba untuk hamil atau tidak. Jika memang wanita tersebut tidak ingin hamil, maka wanita yang mengalami kondisi gangguan fase luteal tidak memerlukan pengobatan apapun.

Berbeda ketika seorang wanita yang mengalami kondisi gangguan fase luteal dan ingin memiliki seorang anak atau kehamilan. Mungkin dokter akan menyarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Mislanya seperti Clomiphene Citrate atau Clomid.

Di mana obat tersebut bisa menjadi pemicu ovarium untuk membuat lebih banyak folikel yang digunakan untuk melepaskan sel telur. Lalu, ada obat seperti hCG atau Human Chorionic Gonadotropin yang bisa digunakan untuk membantu memulai ovulasi sekaligus menghasilkan banyak progesterone.

Suntikan progesterone, pil atau supositoria juga bisa digunakan setelah ovulasi yang berguna membantu lapisan rahim menjadi tumbuh. Sebelum itu, konsultasikan terhadap dokter terkait dengan pilihan pengobatan yang akan dipilih.

Studi belum menjelaskan jika dengan mengobati gangguan fase luteal akan meningkatkan kemungkinan keberhasilan kehamilan pada wanita yang tidak menggunakan teknik reproduksi. Progesterone bisa membantu beberapa wanita untuk mendapatkan perawatan yang berhubungan dengan kesuburan.

Akan tetapi, tidak ada bukti jika meminumnya setelah hamil akan bisa mencegah terjadinya keguguran. Oleh karena itu, jika Anda mengalami masalah kesuburan segeralah datang ke dokter. Mungkin saja terjadi gangguan fase luteal.