Mengenal Fungsi Epididimis sebagai Sarana Transportasi Sperma

Setiap makhluk hidup memiliki alat untuk reproduksi, termasuk manusia. Laki-laki dan perempuan memiliki organ reproduksi yang berbeda, begitu pula dengan fungsinya. Sistem reproduksi sendiri merupakan sistem biologis yang terdiri dari seluruh organ anatomis yang berkaitan dengan reproduksi seksual.

Jadi, organ reproduksi bukan hanya alat kelamin yang termasuk dalam sistem reproduksi, tetapi juga cairan, feromon, dan hormon yang ikut berperan dalam sistem reproduksi. Laki-laki dan perempuan memiliki sistem reproduksi yang berbeda. Oleh sebab itu, setiap dari kita harus mengetahui fungsi dari setiap sistem reproduksi diri supaya dapat merawat dan tetap sehat.

Berikut akan dibahas mengenai organ reproduksi laki-laki, khususnya epididimis yang telah dirangkum dari berbagai laman di internet.

Apa Fungsi Epididimis?

Epididimis merupakan organ saluran reproduksi laki-laki yang berfungsi sebagai transportasi sperma, perlindungan konsentrasi, dan penyimpanan sperma. Epididimis juga disebut sebagai tabung panjang melingkar yang menjadi tempat penyimpanan sperma dan mengangkutnya dari testis.

Masalah fungsional dan struktural pada epididimis dapat dihubungkan dengan infertilitas atau penurunan kesuburan. Fungsi epididimis secara lebih rinci seperti yang diterangkan dalam Epididimis dan Perannya pada Pematangan Spermatozoa yang ditulis oleh Muslim Akmal, dkk yang dimuat dalam laman Kumparan.com sebagai berikut.

1. Menyimpas Spermatozoa

Fungsi utama dari epididimis adalah menyimpan spermatozoa sampai penuh. Kemudian, spermatozoa yang ada di dalam epididimis akan dialirkan ke dalam duktus epididimis. Sperma dari testis dikumpulkan di epididimis. Ia juga memberikan ruang dan lingkungan yang baik untuk proses pematangan sperma.

Pematangan spermatozoa dalam epididimis manusia terjadi lebih cepat daripada spesies lainnya. Sehingga, penyimpanan spermatozoa tidak membutuhkan waktu yang lebih lama. Tidak hanya itu, proses pematangan spermatozoa manusia juga relatif lebih sederhana dibandingkan spesies lainnya.

Transit spermatozoa dalam epididymis membutuhkan waktu 2-6 hari. Jangka waktu tersebut terbilang lebih singkat dibandingkan dengan spesies lainnya.

2. Tempat Pematangan Spermatozoa

Fungsi selanjutnya dari epididimis, yakni sebagai tempai pematangan spermatozoa. Spermatozoa baru akan mengalami pematangan yang sempurna ketika berada di dalam epididimis. Selama masa transit di dalam epididimis, spermatozoa akan mengalami pematangan.

Tidak hanya itu, spermatozoa juga mengalami beberapa perubahan di antaranya ukuran, bentuk, ketajaman, dan struktur internal akrosom.

3. Sumber Molekul-Molekul Penting

Epididimis menjadi organ yang kaya dengan sejumlah protein atau molekul penting untuk mendukung pematangan spermatozoa. Proses pematangannya bergantung pada jumlah molekuk yang disekresikan oleh epithelium.

Terdapat sejumlah molekul yang memiliki peranan penting dalam meregulasi pematangan spermatozoa. Molekul-molekul tersebut di antarnya CRISP1, SPAG11e, DEFB126, carbonyl reductase P34H, CD52, and GPR64.

4. Transportasi Spermatozoa

Epididimis juga berfungsi mengangkut dan menyalurkan sperma ke bagian lainnya. Sperma yang akan keluar dari tubuh juga harus melewati saluran tersebut.

Jika bicara tentang reproduksi, maka akan sangat banyak sekali, sehingga kita perlu mencari tahunya melalui buku. Salah satu buku yang bisa dijadikan sebagai refernsi dalam mengetahui sistem reproduksi adalah At a Glance: Sistem Reproduksi Edisi 2. Melalui buku ini, pembaca akan mengetahui reproduksi normal pada manusia mulai dari embriologi saluran reproduksi, selanjutnya pubertas dengan pematangan anatomi dan fisiologi reproduksi pria dan wanita.

Struktur Epididimis

Epididimis terdiri dari tiga struktur. Berikut ketiga struktur tersebut seperti yang terangkum dalam laman Kumparan.com.

1. Kepala (Caput)

Kepala atau caput menjadi bagian epididimis yang terletak di bagian atas dekat dengan testis. Fungsinya sebagai tempat penyimpanan sel sperma yang siap untuk mengalami proses pematangan.

2. Tubuh (Corpus)

Tubuh atau corpus epididimis berbentuk layaknya tabung yang panjang dan bengkok. Bagian ini menjadi tempat berlangsungnya peristiwa pematangan sel sperma.

3. Ekor (Cauda)

Bagian ekor pada epididimis mengambil peran sebagai penyakur sel sperma ke bagian lainnya, yakni ke saluran vas deferens. Setelahnya, sperma akan diangkut menuju saluran ejakulasi.

Bicara tentang seksualitas di Indonesia bisa dibilang terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan zaman. Dengan mengetahui  seksualitas yang terjadi di Indonesia, maka akan menambah wawasan kita. Buku Seksualitas Di Indonesia Politik Seksual, Kesehatan, Keberagaman, dan Representasi, bisa dijadikan panduan untuk kamu yang ingin mendalami seksualitas di Indonesia.

Penyakit atau Gangguan pada Epididimis

Jika kesehatan epididimis tidak dijaga dengan baik maka besar kemungkinan terserang penyakit atau gangguan. Melansir dari laman Alodokter.com dan Halodoc.com, berikut beragam penyakit yang dapat menyerang epididimis.

1. Epididimitis

Epididimitis merupakan kondisi epdidimis yang meradang akibat infeksi bakteri pada saluran kemih, penyakit menular seksual, atau infeksi prostat. Tidak hanya itu, epididimitis juga dapat disebabkan oleh benturan di selangkangan atau akibat infeksi tuberkolosis.

Sebagian besar penyebab masalah epididimitis adalah infeksi yang disebut sebagai E.coli. beberapa kasus disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycoplasma atau Chlamydia. Infeksi ini kerap kali datang melalui penyakit menular seksual.

Berikut penyebab lainnya dari penyakit epididimitis.

  • Penyumbatan di uretra (tabung yang membawa kencing dari tubuh).
  • Kelenjar prostat yang membesar atau terinfeksi (kelenjar berotot seukuran buah kenari yang mengelilingi bagian dari uretra).
  • Penggunaan kateter (tabung yang mengalirkan kandung kemih).
  • Pembedahan pada prostat, uretra atau kandung kemih.
  • Cedera pangkal paha traumatis.
  • Infeksi lain, seperti virus gondok dan tuberculosis.

Pada umumnya, penyakit ini terjadi pada laki-laki dewasa, yakni di rentang usia 20-40 tahun.

2. Kista Epididimis

Kista epididimis atau spermatocele merupakan kondisi ketika kantong berisi cairan terbentuk di dalam saluran epididimis. Penyebabnya belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh penyumbatan dalam saluran epididimis.

Ukuran dari kista epididimis kecil sehingga kerap kali tidak terdeteksi. Umumnya, benjola baru dapat dirasakan ketika ukurannya mulai membesar. Bentuknya menyerupai gumpalan lunak dan bisa bergerak jika diraba. Penyakit ini kerap diderita oleh laki-laki berusia 20-50 tahun.

Baca Juga :  7 Langkah Untuk Mendapatkan Kulit Halus Dan Lembut

3. Epididimo-orchitis

Epididimo-orchitis merupakan peradangan pada testis dan epididimis karena infeksi. Terutama, infeksi saluran kemih atau infeksi menular seksual. Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan dan rasa nyeri pada skrotum.

Penyakit ini sering kali terjadi pada laki-laki berusia 15-30 tahun atau lebih dari 60 tahun. Adapun, risiko terkena epididimo-orchitis akan meningkat pada laki-laki yang menggunakan kateter atau alat bantu medis lain yang dimasukkan ke dalam uretra.

Gangguan fungsi epididimis sering kali dihubungkan dengan infertilitas karena berperan dalam pengangkutan, penyimpanan, dan pematangan sperma. Oleh sebab itu, sebaiknya mengkonsultasikan penyakit ini dengan tenaga medis.