Surat Al-Falaq Beserta Artinya

Surat Al-Falaq yang menerangkan mengenai perlindungan Allah SWT kepada umat-Nya supaya terhindar dari perasaan iri dengki atau hasad. Para pendengki juga akan merasa sakit hati jika melihat nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada seseorang padahal ia tidaklah sedang dirugikan oleh pemberian Allah SWT tersebut.

Umat Islam yang bisa membaca surat Al-Falaq guna meminta perlindungan kepada Allah SWT dari sifat iri dengki, kejahatan, keburukan, sihir, serta ancaman lainnya. Hal ini tentu saja karena Allah SWT Maha Melindungi, sesuai salah satu nama dalam asmaul husna, yaitu Al Waliyy.

Supaya semakin memahami apa kandungan dan juga tafsir dari surat Al-Falaq, maka kalian bisa membaca artikel ini. Nah, berikut ini surat Al-Falaq beserta artinya dan kandungan dalam membaca surat Al-Falaq adalah sebagai berikut ini.

Surat Al-Falaq dan Artinya

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ayat 1

قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِۙ

Qul a’uzuu bi rabbil-falaq

  1. Artinya: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),

Ayat 2

مِنۡ شَرِّ مَا خَلَقَۙ

Min sharri ma khalaq

  1. Artinya: dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,

Ayat 3

وَمِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ

Wa min sharri ghasiqin iza waqab

  1. Artinya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

Ayat 4

وَمِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الۡعُقَدِۙ

Wa min sharrin-naffaa-thaati fil ‘uqad

  1. Artinya: dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

Ayat 5

وَمِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

Wa min shar ri haasidin iza hasad

  1. Artinya: dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

Surat Al-Falaq merupakan golongan surat Makkiyah. Surat al-Falaq yang diturunkan di Mekkah, pada periode sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

Al-falaq itu sendiri memiliki arti ‘yang terbelah’, karena diambil dari ayat pertama surat ini. Rasulullah menyebut surat ini dengan nama surat Qul A’udzu bi Rabb al-Falaq.

Disebutkan dalam Tafsir Al-Mishbah oleh Quraish Shihab, surat Al-Falaq diturunkan di Makkah dan termasuk surat Makkiyah, turun sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah. Surat ini berada di urutan ke-20 atau ke-21 dari segi tertib turunnya wahyu.

Sabab, nuzul surat ini ketika kaum musyrik Mekah berusaha melukai Rasul dengan ‘ain, yakni pandangan mata yang merusak. Kepercayaan dalam kalangan masyarakat tertentu bahwa mata melalui tatapannya bisa membinasakan.

Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas menurut riwayat diturunkan untuk mengajarkan Nabi menangkal ‘ain tersebut. Surat al-Falaq dan Surat Ann-Nas disebut al-Muawwidzatain, karena menuntun pembacanya kepada perlindungan Allah.

Ulama Al-Qurthubi menamainya juga al-Muqasyqisyatain yang berarti membebaskan manusia dari kemunafikan. Bisa diketahui juga bahwa kandungan surat Al-Falaq adalah memohon perlindungan kepada Allah untuk terbebas dari kemunafikan.

Tafsir Surat Al-Falaq

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (Penguasa) waktu Subuh.”

Dalam bahasa Arab, al-falaq berarti sesuatu yang terbelah atau terpisah. Yang dimaksud dengan al-falaq dalam ayat ini adalah waktu subuh, karena makna inilah yang pertama kali terdetik dalam benak orang saat mendengar kata al-falaq. Ia disebut demikian karena seolah-olah terbelah dari waktu malam.

Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk berlindung (isti’adzah) kepada Allah semata. Isti’adzah termasuk ibadah, karenanya tidak boleh dilakukan kepada selain Allah. Dia yang mampu menghilangkan kegelapan yang pekat dari seluruh alam raya di waktu subuh tentu mampu untuk melindungi para peminta perlindungan dari semua yang ditakutkan.

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Dari kejahatan apa-apa yang telah Dia ciptakan.”

Ayat yang yang pendek ini mengandung isti’adzah dari kejahatan semua makhluk. Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Jahannam dan iblis beserta keturunannya termasuk apa yang telah Dia ciptakan.”

Kejahatan diri kita sendiri juga termasuk di dalamnya, bahkan ia yang pertama kali masuk dalam keumuman kata ini, sebagaimana dijelaskan  Syaikh al-‘Utsaimin. Hanya Allah yang bisa memberikan perlindungan dari semua kejahatan, karena semua makhluk di bawah kekuasaanNya.

Setelah memohon perlindungan secara umum dari semua kejahatan, kita berlindung kepada Allah dari beberapa hal secara khusus pada ayat berikut; karena sering terjadi dan kejahatan berlebih yang ada padanya.

Di samping itu, ketiga hal yang disebut khusus berikut ini juga merupakan hal-hal yang samar dan tidak tampak, sehingga lebih sulit dihindari.

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

“Dan dari kejahatan malam apabila telah masuk dalam kegelapan.”

Kata ghasiq memiliki arti malam yang asalnya dari kata ghasad yang berarti kegelapan. Kata kerja waqaba mengandung makna masuk dan penuh, artinya sudah masuk dalam gelap gulita.

Kita berlindung dari kejahatan malam secara khusus, karena kejahatan lebih banyak terjadi di malam hari. Banyak penjahat yang memilih melakukan aksinya di malam hari. Demikian pula  arwah  jahat  dan binatang-binatang yang berbahaya.

Di samping itu, menghindari bahaya juga lebih sulit dilakukan pada waktu malam.

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada tali-tali ikatan.”

Para tukang sihir biasa membaca mantra dan jampi-jampi, kemudian mereka tiupkan pada tali-tali yang diikat. Inilah yang di maksud dengan ruqyah syirik.

Sihir merupakan salah satu dosa dan kejahatan terbesar, karena disamping syirik, ia juga samara dan bisa mencelakakan manusia di dunia dan akhirat. Karenanya kita berlindung secara khusus kepada Allah dari kejahatan ini.

Penyebutan wanita tukang sihir dalam bentuk muannats (feminin) dikarenakan jenis sihir ini yang paling banyak melakukannya adalah wanita. Dalam riwayat tentang sihir Labid bin al-A’sham yang ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga disebutkan bahwa puteri-puteri Labid yang menghembus pada tali-tali.

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dan dari kejahatan orang dengki apabila ia dengki.”

Dengki (hasad) adalah membenci nikmat Allah atas orang lain dan menginginkan hilangnya nikmat itu darinya. Yang dimaksud dengan ‘apabila ia dengki’ adalah jika ia menunjukkan kedengkian yang ada di hatinya dan karenanya terbawa untuk membahayakan orang yang lain.

Kondisi yang demikianlah yang membahayakan orang lain. Orang yang hasad akan menempuh cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan keinginannya.

Hasad juga bisa menimbulkan mata jahat (‘ain) yang bisa membahayakan sasaran kedengkiannya. Pandangan mata dengkinya bisa mengakibatkan orang sakit, gila, bahkan meninggal. Barang yang dilihatnya juga bisa rusak atau tidak berfungsi.

Karenanya, kitapun berlindung kepada Allah dari keburukan ini secara khusus. Ada juga orang dengki yang hanya menyimpan kedengkiannya dalam hati, sehingga ia sendiri gundah dan sakit hati, tapi tidak membahayakan orang lain, sebagaimana dikatakan Umar bin Abdil Aziz: “Saya tidak melihat orang zhalim yang lebih mirip dengan orang terzhalimi daripada orang yang dengki.”

Jadi, untuk melindungi diri dari semua kejahatan kita harus menggantungkan hati kita dan berlindung hanya kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan membiasakan diri membaca dzikir yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini adalah salah satu wujud kesempurnaan agama Islam. Kejahatan begitu banyak pada zaman kita ini, sementara banyak umat Islam yang tidak tahu bagaimana cara melindungi diri darinya.

Adapun yang sudah tahu banyak yang lalai, dan yang membacanya banyak yang tidak menghayati. Semua ini adalah bentuk kekurangan dalam beragama. Andai umat Islam memahami,mengamalkan dan menghayati sunnah ini, niscaya mereka terselamatkan dari berbagai kejahatan.

Sebagian ulama dalam Tafsir Ibnu Katsir menjabarkan ayat empat dengan kejahatan yang ditimbulkan oleh tukang sihir. Sebagian lainnya mengatakan wanita-wanita yang membaca mantra dan menghembusnya pada tali-tali untuk menyihir.

Tafsir Al-Mishbah menyebutkan bahwa ayat ini dijadikan dasar oleh pemahaman ulama bahwa al-Qur’an mengakui adanya sihir. Berdasarkan sabab nuzul ayat ini, yakni Rasulullah pernah disihir dan merasa terganggu dengan sihir tersebut, sehingga Allah mengajarkan beliau dalam menampiknya dengan surat al-Muawidzatain.

Keterangan Nabi SAW pernah disihir diriwayatkan dalam hadis dalam Shahih Bukhari, dari Aisyah RA, ia berkata: ‘Rasulullah pernah disihir, di mana beliau melihat seakan-akan mendatangi beberapa orang istri padahal beliau tidak mendatangi mereka. Abu Sufyan mengatakan: ‘Ini merupakan sihir yang paling parah, jika keadaannya seperti itu’.

Kemudian Nabi SAW bersabda: “Wahai Aisyah, tahukah engkau bahwa Allah telah memfatwakan kepadaku mengenai sesuatu yang dulu engkau pernah meminta fatwa tentangnya? Aku telah didatangi oleh dua orang (Malaikat), lalu salah seorang di antaranya duduk di dekat kepalaku dan yang lainnya di dekat kakiku. Kemudian yang duduk di dekat kepalaku berkata: ‘Apa yang dialami oleh orang ini?’ Yang lainnya menjawab: ‘Dia terkena sihir’. ‘Lalu siapa yang menyihirnya?’ tanyanya lebih lanjut. Dia menjawab: ‘Labid bin A’sham, seorang dari Bani Zuraiq, sekutu Yahudi, yang dia seorang munafik’. Dia bertanya: ‘Dalam wujud apa sihir itu?’ Dia menjawab: ‘Pada sisir dan bekas rontokan rambut’. ‘Lalu di mana semuanya itu berada?’ tanya temannya. Dia menjawab: ‘Di kulit mayang kurma jantan di bawah dasar sumur Dzarwan’.”

Aisyah berkata melanjutkan perkataannya: ‘Kemudian Rasulullah mendatangi sumur itu dan mengeluarkan sihir tersebut. Selanjutnya beliau berkata: “Wahai Aisyah, inilah sumur yang pernah diperlihatkan kepadaku, seakan-akan airnya adalah celupan pacar, dan pohon kurmanya seperti kepala syaitan”. (HR Bukhari & Muslim).

Baca Juga :  Pengertian Solat, Hukum, Syarat dan Rukun Sholat Lengkap

Imam Bukhari berkata: ‘Kemudian Nabi SAW mengeluarkan benda sihir tersebut dari sumur’.

Hikmah Membaca Surat Al-Falaq

Membaca kalam Allah SWT tentunya sangat baik dan memiliki banyak sekali manfaatnya. Berikut ini hikmah apabila membaca surat Al-Falaq dan maknanya.

  • Surat Al Falaq ayat 1

Kata falaq memiliki arti subuh pada ayat 1 dan memiliki makna yaitu permohonan perlindungan kepada Allah SWT sang penguasa subuh dan seluruh makhluk.

  • Surat Al Falaq ayat 2

Kejahatan sejatinya dapat dilakukan bagi seluruh makhluk dalam berbagai bentuk. Perlindungan Allah SWT tentunya memungkinkan menjadi kebaikan dan kemanfaatan pada suatu makhluk yang lebih dominan, sehingga mengalahkan kejahatan.

  • Surat Al Falaq ayat 3

Kata al ghasiq pada ayat ini berartikan tumpah dan mengalir deras, sedangkan al waqab memiliki arti galian gunung yang mengeluarkan air. Pada ayat ini berceritakan mengenai malam gelap gulita yang memungkinkan binatang buas, orang jahat, nafsu, hingga emosi negatif menguasai manusia. Kondisi ini hanya bisa diatasi dengan perlindungan Allah SWT.

  • Surat Al Falaq ayat 4

Kalimat anaffāṡāti fil-‘uqad adalah wanita tukang sihir yang justru mengganggu dan juga menyakiti dengan menipu indera, saraf, dan memberikan kesan atau perasaan tertentu pada jiwa seseorang. Sihir sebetulnya tidaklah mengubah atau mengembalikan sesuatu yang baru. Kejahatan dari sihir hanya bisa dihindari dengan perlindungan Allah SWT.

  • Surat Al Falaq ayat 5

Dalam ayat kelima surat Al-Falaq ini, Allah SWT telah menerangkan mengenai sifat dengki atau hasad yang terdapat pada manusia. Sifat ini yang memungkinkan untuk manusia ingin menghilangkan kenikmatan dari orang lain dengan banyak cara, termasuk adanya kejahatan.

Akan tetapi, sayangnya sifat hasad terkadang timbul tanpa kesengajaan sehingga tidak diketahui pasti mengenai penyebabnya. Untuk menghadapi risiko tersebut, sudah selayaknya umat muslim untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT. Perlindungan Allah SWT dalam memudahkan seorang muslim untuk bertindak dan juga mengambil keputusan tanpa adanya menghadirkan hasad.

Keutamaan Surat Al-Falaq

Selain hikmah membaca surat Al-Falaq, di artikel ini juga akan dibahas keutamaan surat Al-Falaq. Berikut ini dalam keutamaan surat Al-Falaq.

  • Permohonan kepada Allah SWT agar dilindungi dari kejahatan

Keutamaan dari surat Al-Falaq merupakan bentuk untuk memohon dalam perlindungan kepada Allah SWT terhadap berbagai kejahatan.

  • Permintaan agar mendapat penyembuhan bagi yang sakit

Surat Al-Falaq juga bisa dibacakan untuk meminta penyembuhan dan kesehatan dari Allah SWT. Hal ini telah tertuang dalam hadits riwayat Bukhari.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله تعالى عنها-: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Artinya: “Dari Aisyah, sesungguhnya Nabi Muhammad apabila hendak tidur setiap malam, Nabi Muhammad menggabungkan kedua telapak tangannya, kemudian meniup kedua telapak tangannya, lalu membacakan surat Al-Ikhlas dan Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) pada kedua telapaknya, selanjutnya mengusapkan pada jasad (anggota tubuh) yang bisa diraih. Nabi Muhammad memulai (mengusap) dari kepalanya, wajahnya, dan bagian depan tubuhnya. Hal ini dilakukan tiga kali.”

  • Bacaan untuk zikir

Keutamaan selanjutnya dari surat ini adalah surat yang dianjurkan menjadi bacaan ketika zikir. Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir setelah mendapat pesan dari Rasulullah SAW. Ia mengatakan Rasulullah berpesan agar setiap Muslim membacanya setiap malam.

يَاعُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ أَلآ أُعَلِّمُكَ سُوَرًا مَاأُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَافِي الزَّبُوْرِ وَلَافِي الْإِنْجِيْلِ وَلَافِي الْفُرْقَانِ مِثْلَهُنَّ? لَايَأْتِيْ عَلَيْكَ لَيْلَةٌ إِلَّا قَرَاْتَهُنَّ فِيْهَا: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Artinya: “Wahai Uqbah bin Amir, maukah aku ajarkan kepadamu beberapa surat (Al-Quran) yang tidak diturunkan dalam Taurat, Zabur, Injil, ataupun Al-Quran yang serupa dengannya? Bacalah surat-surat tersebut pada setiap malam, yaitu Qul huwallahu ahad (Al-Ikhlas), Qul a’udzu bi rabbil falaq (Al-Falaq), dan Qul a’udzu bi rabbin nas (An-Nas).”