10 Jenis Pemanis Alami dan Kelebihannya untuk Tubuh

Pemanis alami merupakan bahan pemberi rasa manis yang diperoleh dari bahan-bahan nabati maupun hewani. Contoh pemanis alami gula tebu, gula merah, madu, dan kulit kayu manis. Gula tebu mengandung zat pemanis fruktosa yang merupakan salah satu jenis glukosa.

Selain gula, ada juga pemanis alami lain yang dapat digunakan. Tetapi perlu Ibu ingat, walaupun pemanis alami pengganti gula dianggap lebih sehat dan beberapa mengandung antioksidan, vitamin, dan mineral, tetap sebaiknya dikonsumsi secukupnya saja. Berikut ini adalah beberapa contoh pemanis alami.

  • Madu
  • Gula kelapa
  • Kurma
  • Molase
  • Sirup maple
  • Daun stevia

Tubuh memang membutuhkan gula untuk mendukung proses metabolisme. Rendahnya kadar glukosa dalam darah bahkan bisa menyebabkan kondisi bernama hipoglikemia.

Namun, terlalu banyak asupan gula juga bukan merupakan hal yang baik. Sebab, menurut banyak penelitian, ada beberapa dampak buruk yang mungkin akan terjadi pada tubuh, misalnya, risiko obesitas.

Studi menjelaskan, asupan tinggi gula dikaitkan dengan berbagai penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, bahkan kanker. Maka dari itu, sangat penting untuk membatasi asupan gula yang masuk ke dalam tubuh. Konsumsi harian gula tambahan untuk pria dewasa adalah maksimal 150 kalori, setara 37,5 gram atau 9 sendok teh. Sedangkan untuk wanita, 25 gram atau 6 sendok teh, setara dengan 100 kalori.

Lalu bagaimana dengan pemanis buatan? Pemanis buatan adalah bahan sintetis yang dapat memberikan rasa manis seperti gula namun tidak ditemukan di alam seperti pada tanaman atau hewan. Beberapa pemanis buatan yang sering digunakan diantaranya sakarin, aspartam, dan asesulfam K. Kelebihan pemanis buatan dibandingkan pemanis alami yaitu pemanis buatan memberikan asupan energi lebih kecil terhadap konsumen atau tidak memberikan energi sama sekali.

Harga untuk memperoleh pemanis buatan lebih murah dibandingkan pemanis alami, dan intensitas manis yang diberikan lebih besar sehingga sedikit penambahan pemanis buatan sudah mengimbangi tingkat kemanisan pemanis alami dalam jumlah besar. Pemanis buatan adalah opsi bagi para penderita diabetes yang tidak mampu mengendalikan kadar gula dalam darah berdampak terhadap penyakit yang membahayakan penderita diabetes bila konsumsi gula berlebih.

Harga lebih rendah dan intensitas rasa manis lebih tinggi menjadi alasan bagi industri makanan lebih memilih menggunakan pemanis buatan. Namun beberapa peneliti menyatakan pemanis buatan dapat meningkatkan berbagai gangguan kesehatan yang tidak disebabkan pemanis alami.

Beberapa pemanis buatan dapat memunculkan rasa pahit atau rasa manis yang membekas pada lidah setelah makanan dengan pemanis buatan ditelan. Salah satu contoh pemanis buatan yang sangat umum digunakan dalam produk pangan adalah sakarin. Sakarin adalah pemanis buatan yang pertama ditemukan menurut sejarah yang tercatat.

Pada tahun 1960, sebuah studi membuktikan sakarin menyebabkan kanker terhadap tikus percobaan. Studi tersebut menggemparkan masyarakat karena sakarin pada saat itu diketahui sebagai satu-satunya pemanis buatan. Setelah kejadian tersebut sakarin dilarang digunakan dalam pangan hingga pada tahun 1977 penelitian berulang dilakukan untuk membuktikan kebenaran efek dari sakarin terhadap hewan percobaan.

Dan pada tahun 2002, sakarin diperbolehkan penggunaannya sebagai pemanis buatan dengan nilai Acceptable Daily Intake (ADI) 5 mg/kg berat badan. Contoh pemanis komersial yang sering digunakan pada produk pangan adalah Aspartam dan Asesulfam-K. Pemanis aspartam pada awalnya sering dianggap berbahaya bagi ibu hamil sehingga keamanannya dipertanyakan sebagai bahan tambahan pangan.

Kajian berulang dilakukan untuk membuktikan keamanan dari aspartam dan terbukti aspartam tidak berbahaya bagi manusia. Pada tahun 1996 aspartam ditetapkan dapat digunakan sebagai pemanis buatan untuk berbagai makanan dan minuman selama konsumsinya tidak berlebihan.

Studi keamanan menunjukkan bahwa nilai batas Acceptable Daily Intake atau angka asupan per hari yang diregulasi terhadap pemanis ini adalah 50 mg/kg berat badan. Demikian dengan asesulfam K atau asesulfam potasium. Pemanis ini dinyatakan boleh digunakan pada tahun 1992 oleh FDA untuk permen karet dan makanan kering. Pada tahun 1998 pemanis ini boleh digunakan dalam minuman dengan kadar yang cukup.

Berdasarkan regulasi keamanannya, asesulfam-K memiliki nilai ADI 15mg/kg berat badan. Studi keamanan terhadap aspartam menjelaskan bahwa pemanis ini tidak memiliki kalori dan bersifat non-glikemik, artinya pemanis ini sangat baik bagi penderita obesitas dan diabetes. Pemanis alami dan pemanis buatan memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing maka dari itu kita sebagai konsumen dapat menentukan jenis pemanis mana yang paling baik bagi tubuh kita.

Apabila kamu tidak menginginkan kalori dari pangan yang kita konsumsi maka pemanis buatan adalah pilihan yang bijaksana dan jika kamu tidak mempermasalahkan asupan energi dari pemanis yang dikonsumsi maka pemanis alami dapat menjadi pilihan untuk pangan yang akan dikonsumsi.

Semuanya kembali lagi tentang pola konsumsi, bukan hanya meninjau dari sisi evaluatif pemanis. Pemanis alami dan pemanis buatan takkan berbahaya sejauh pemanis yang dikonsumsi tidak berlebihan dan selama bahan yang digunakan telah memenuhi standar yang ditetapkan peraturan yang berlaku.

Di Indonesia, pemanis buatan termasuk sebagai bahan tambahan pangan yang diperbolehkan dengan kadar tertentu dan golongan tertentu berdasarkan Permenkes No.33 Tahun 2012.

Kelebihan Pemanis Alami

Pemanis alami memiliki kelebihan tersendiri. Pemanis alami dapat menjadi pilihan pengganti gula pasir dan sejenisnya dikarenakan indeks glikemiknya yang lebih rendah. Indeks glikemik merupakan kemampuan makanan sehat dicerna tubuh dan meningkatkan kadar glukosa dalam darah.

Semakin tinggi kadar indeks glikemiknya, semakin cepat makanan tersebut dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Walau memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, tetap pemanis alami juga perlu dikontrol asupannya, dengan mengonsumsi sebanyak 4 sendok makan atau 50 gram dalam 1 harinya sesuai anjuran.

Baca Juga :  Ini 3 Cara Mengatasi Anosmia Menurut Saran Dokter

Pemanis alami terdiri atas kalori yang tinggi di dalamnya yang memberikan konsumen asupan energi. Apabila kita mengonsumsi pemanis alami terlalu tinggi per harinya akan meningkatkan berat badan secara drastis. Dan jika tidak diimbangi dengan keluaran energi yang seimbang dengan asupan energi yang diperoleh. Risiko lain dari konsumsi pemanis alami yang berlebihan adalah diabetes, obesitas dan karies gigi. Kementerian Kesehatan RI (Kemkes) menyarankan konsumsi gula per hari yaitu 50 gram (4 sendok makan) gula .