Hati-Hati! Kenali Tanda-Tanda IUD Bergeser dan Penyebabnya

Intrauterine device (IUD) adalah alat keluarga berencana (KB) yang dinilai efektif untuk mencegah kehamilan jika dipasang dengan benar. Namun, karena beberapa hal, alat KB tersebut bisa bergeser dari rahim. Sebenarnya kamu dianjurkan untuk memeriksa posisi KB IUD secara teratur di rumah untuk mengetahui jika ada perubahan. Namun, ketika alat kontrasepsi tersebut sudah bergeser dari rahim, biasanya ada sejumlah tanda yang bisa dirasakan wanita”.

IUD adalah salah satu alat kontrasepsi KB yang umum digunakan oleh wanita. Alat kontrasepsi ini berbentuk T, berukuran kecil dan terbuat dari plastik yang dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan dan tujuan lainnya.

Tergantung pada jenis dan merk IUD, alat kontrasepsi ini bisa bertahan selama 3–12 tahun. Jadi, selama waktu tersebut, kamu tidak perlu memikirkan alat kontrasepsi kamu. Meski begitu, pada kasus yang jarang terjadi, KB IUD juga bisa bergeser dari rahim, atau bahkan jatuh. Bila KB IUD sudah tidak berada di tempat yang tepat, kamu bisa hamil. Karena itu, penting untuk mengetahui tanda-tanda IUD bergeser dari rahim di sini.

Apa Penyebab IUD Bisa Bergeser?

KB IUD yang sudah dipasang dengan tepat sebenarnya jarang sekali bergeser atau bergerak. Namun, hal itu tetap bisa terjadi, terutama dalam beberapa bulan pertama setelah dimasukkan. Berikut ini beberapa hal yang bisa menyebabkan KB IUD bergeser:

  • Kamu mengalami kontraksi rahim yang kuat selama periode menstruasi kamu.
  • Kamu memiliki rongga rahim yang kecil.
  • Rahim kamu miring.
  • IUD dipasang oleh dokter yang tidak berpengalaman dalam melakukan prosedur ini.

Selain itu, ada beberapa faktor juga yang bisa membuat KB IUD kamu lebih mungkin untuk bergeser, antara lain:

  • Berusia di bawah 20 tahun.
  • Sedang menyusui.
  • Pemasangan IUD dilakukan segera setelah melahirkan.

Pemeriksaan Posisi KB IUD Bisa Dilakukan Secara Mandiri

Tahukah kamu bahwa KB IUD memiliki tali yang menggantung di leher rahim yang seharusnya bisa kamu rasakan? Untuk memastikan KB IUD kamu tidak bergeser, beberapa ahli menganjurkan untuk memeriksa benang tersebut setiap bulan setelah kamu mendapatkan menstruasi. Hal ini karena alat kontrasepsi tersebut lebih mungkin bergeser selama periode kamu.

Berikut cara memeriksa apakah KB IUD kamu masih terpasang dengan baik atau tidak:

  • Pertama-tama, cuci tangan terlebih dahulu.
  • Lalu, duduklah atau berjongkok agar kamu bisa dengan mudah mengakses vagina kamu.
  • Masukkan jari ke dalam vagina sampai kamu merasakan leher rahim.
  • Rasakan ujung tali yang seharusnya keluar melewati leher rahim.
  • Hindari menarik tali.

Bila kamu bisa merasakan talinya, kemungkinan KB IUD kamu masih terpasang. Bila kamu tidak bisa merasakan talinya, tali tersebut lebih panjang atau lebih pendek dari biasanya, atau kamu bisa merasakan plastik KB IUD kamu, kemungkinan alat tersebut sudah bergerak. Namun, tidak bisa merasakan tali bukan berarti IUD sudah bergeser. Kemungkinan besar tali melingkar di dalam leher rahim.

Tanda-Tanda KB IUD Sudah Bergeser dari Rahim

Berikut ini tanda-tanda KB IUD bergeser dari rahim:

  • Kamu tidak bisa merasakan talinya. Saat kamu melakukan pemeriksaan dan tidak dapat menemukan tali KB IUD, ada kemungkinan tali melingkar di dalam rahim, tetapi ada juga kemungkinan alat kontrasepsi tersebut sudah bergeser. Bicarakanlah pada dokter untuk memastikannya.
  • Tali IUD terasa lebih pendek atau lebih panjang dari biasanya. Bila panjang tali berbeda, ada kemungkinan KB IUD bergeser. Memeriksa tali secara teratur membuat kamu lebih mudah untuk menyadari perubahan ini.
  • Kamu bisa merasakan KB IUD. Ketika IUD berada di tempat yang tepat, kamu seharusnya hanya merasakan talinya. Namun, bila kamu bisa merasakan bagian plastik yang keras dari IUD menyembul keluar, artinya alat tersebut sudah bergeser.
  • Pasangan bisa merasakan KB IUD. Saat IUD masih terpasang dengan baik, kamu dan pasangan seharusnya tidak merasakannya saat berhubungan intim. Pasangan mungkin merasakan talinya, tetapi bukan bagian plastiknya. Bila pasangan bisa merasakan bagian plastik yang keras, alat tersebut mungkin sudah bergerak.
  • Rasa nyeri. Bila kamu merasakan sakit yang luar biasa, memburuk, atau tidak hilang 3–6 bulan setelah kamu mendapatkan KB IUD, kemungkinan alat tersebut tidak berada pada tempatnya.
  • Perdarahan berat atau tidak normal. Bercak dan perdarahan biasa terjadi setelah kamu baru mendapatkan KB IUD, tetapi perdarahan berat atau tidak normal bisa menjadi pertanda alat tersebut berada di tempat yang salah.
  • Kram parah, keputihan yang tidak normal, atau demam. Itu semua bisa menjadi pertanda alat konstrasepsimu sudah bergeser, tetapi mungkin juga merupakan tanda-tanda infeksi.

IUD juga bisa bergeser dari rahim tanpa menimbulkan tanda-tanda. Jadi, periksalah tali secara teratur untuk mengetahui apakah alat tersebut masih berada di tempat yang tepat atau sudah bergeser.

Tanda IUD Bermasalah yang Patut Diperhatikan

Tanda-tanda KB IUD bergeser dapat disebabkan oleh sejumlah faktor salah satunya karena KB spiral bergeser atau telah kadaluarsa. Jika kamu mengalami ciri-ciri KB spiral bermasalah seperti berikut, segera hubungi dokter:

1. Posisi IUD Bergeser

Jika tandanya posisi IUD hanya bergeser sedikit, kondisi ini kemungkinan tidak menyebabkan gejala atau keluhannya sangat ringan, sehingga tidak terasa. Namun bila pergeseran posisinya tergolong parah, akan menunjukkan ciri-ciri KB IUD bergeser dengan tanda-tandanya seperti berikut:

  • Tali IUD tidak bisa dirasakan dengan jari.
  • Pasangan merasa penisnya menyentuh IUD saat berhubungan seks.
  • Perdarahan di luar siklus menstruasi.
  • Vagina mengalami pendarahan yang parah.
  • Kram perut yang parah dan melebihi kram menstruasi.
  • Perut bagian bawah terasa sakit.
  • Keputihan yang tidak biasa.

Adapun penyebab KB IUD bergeser dan memicu tanda IUD bermasalah meliputi:

  • Kontraksi rahim yang kuat selama menstruasi.
  • Rongga rahim yang kecil.
  • Rahim dengan kemiringan tinggi.
  • Pemasangan IUD yang tidak benar.

2. IUD Sudah Kedaluwarsa

Selain karena bergeser, menggunakan IUD yang sudah kadaluarsa juga akan menimbulkan komplikasi bagi penggunanya. Efek penggunaan IUD yang melewati batas waktu pemakaian akan menyebabkan peradangan atau perdarahan.

Tanda IUD bermasalah akibat kadaluarsa bisa menimbulkan gejala seperti berikut pada pengguna:

  • Nyeri hebat.
  • Muntah.
  • Demam.
  • Peradangan dan perdarahan.

Agar masalah tersebut tidak Anda alami, penting untuk mengetahui batas waktu kadaluarsa KB spiral IUD. Masa kadaluarsa IUD umumnya adalah 3 sampai 5 tahun. Namun, KB spiral IUD yang terbuat dari lapisan tembaga bisa bertahan lebih lama, yakni mencapai 10 tahun.

3. Terjadi Kehamilan

Meski jarang, tanda IUD bermasalah lainnya bisa berupa kehamilan. Setidaknya, sebuah penelitian menyebutkan bahwa 0,8 persen pemakai KB spiral masih bisa hamil. Salah satu sebab kehamilan tetap bisa muncul adalah pengguna KB spiral melakukan hubungan seksual dalam waktu tujuh hari setelah pemasangan, pelepasan, dan pergeseran IUD.

Mengalami kehamilan meski sudah memakai IUD biasanya akan memunculkan sederet gejala khas wanita hamil pada umumnya. Mulai dari mual, kelelahan, tidak menstruasi, payudara yang lebih sensitif saat disentuh, mengidam, serta perubahan mood.

Baca Juga :  Pengertian Nekrosis, Gejala, Penyebab, dan Cara Pengobatan

Risiko Kehamilan Ektopik saat Memakai IUD

Kehamilan ketika masih memakai KB spiral juga lebih berisiko berupa gangguan medis yang disebut kehamilan ektopik. Kondisi ini terjadi saat embrio bukan tumbuh dalam dalam lahir, tapi di luar rahim. Umumnya, lokasi pertumbuhan tersebut adalah di tuba palofi alias indung telur. Kondisi ini bisa ditandai dengan:

  • Nyeri ringan atau parah di perut atau panggul.
  • Nyeri punggung bagian bawah.
  • Perdarahan vagina yang di luar kebiasaan.
  • Kram di salah satu sisi panggul.
  • Lemah.
  • Pusing.
  • Pingsan.

Risiko IUD Bermasalah pada Wanita Hamil

Beberapa perempuan mungkin akan lebih berisiko mengalami masalah terkait pemasangan IUD, seperti KB spiral yang lepas atau bergeser. Siapa sajakah mereka?

1. Wanita Berusia Muda

Sebuah riset menunjukkan bahwa wanita muda dan remaja lebih berisiko mengalami KB spiral yang lepas. Adapun usia mereka berkisar antara 14 hingga 19 tahun. Risiko lepasnya KB spiral ini akan menurun pada perempuan yang berusia di atas 19 tahun.

2. Baru Menjalani Aborsi Medis

Kelompok perempuan lain yang berisiko mengalami copot IUD adalah mereka yang menjalani prosedur aborsi (kuret) dengan alasan medis. Studi tertentu mengemukakan bahwa jika pemasangan IUD pada dua minggu setelah aborsi lebih berisiko untuk lepas. Risiko ini akan sedikit berkurang jika pemasangan dilakukan setidaknya tiga minggu sesudah kuret.

Jika pasang IUD dilakukan lebih awal, 6,7 persen perempuan kemungkinan mengalami tanda IUD bermasalah akibat lepas dalam waktu enam bulan. Sedangkan bila dilakukan setelah tiga minggu, persentasenya turun menjadi 3,3 persen.