6 Pakaian Adat Khas Kalimantan Selatan dan Maknanya!

Pakaian adat Kalimantan Selatan – Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman baik dari segi budaya, bahasa, makanan, suku, dan bahkan agama yang berbeda.

Namun, dari segala keanekaragaman yang ada tetaplah harus menjunjung tinggi nilai persatuan sesuai dengan semboyan negara “bhinneka tunggal ika” yang memiliki makna walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua.

Salah satu hal yang menjadi daya tarik dalam menelusuri keanekaragaman yang ada di Indonesia adalah dengan mengetahui pakaian adat khas daerah yang menjadi wujud perlambangan budaya suatu daerah tersebut.

Pakaian adat sendiri biasanya digunakan untuk berbagai acara adat, pernikahan, atau festival budaya yang menampilkan ciri khas pakaian adat daerah masing-masing.

Ada banyak sekali ragam pakaian adat yang di negara Indonesia yang mencirikan setiap daerahnya, salah satunya adalah pakaian adat Kalimantan Selatan.

Sebagai bagian dari kepulauan Kalimantan ternyata provinsi Kalimantan Selatan memiliki ciri khas pakaian adat yang cukup berbeda dengan provinsi Kalimantan lainnya karena dipengaruhi oleh suku Banjar yang menjadi mayoritas masyarakat disana berbeda dengan provinsi Kalimantan yang lain yang didominasi oleh suku Dayak.

Untuk itu, agar sobat Grameds lebih jauh mengenal tentang pakaian adat terutama pakaian adat khas Kalimantan Selatan yang menjadi salah satu kekayaan budaya yang ada di Indonesia maka pada pembahasan kali ini kami telah merangkum berbagai informasi terkait pakaian adat apa saja yang terdapat di provinsi Kalimantan Selatan yang menarik untuk diketahui.

Selanjutnya pembahasan terkait pakaian adat Kalimantan Selatan dapat kalian simak di bawah ini.

Ragam Pakaian Adat Kalimantan Selatan

Berbeda dengan beberapa daerah lain yang didominasi suku Dayak di Kalimantan, Kalimantan Selatan yang beribukota di Banjarmasin, sekitar 74 persennya didominasi oleh suku Banjar. Keberadaan suatu suku di suatu daerah tentunya mempengaruhi budaya daerah tersebut.

Begitu juga di Kalimantan Selatan yang beberapa budayanya dipengaruhi oleh keberadaan suku Banjar. Salah satu bentuk pengaruh tersebut adalah pakaian adat masyarakat Kalimantan Selatan. Selain dipengaruhi oleh budaya suku-suku yang tinggal di wilayah Kalimantan Selatan, ternyata ada juga pengaruh dari budaya lain. Bahkan, ada juga pengaruh agama tertentu.

Berikut ini adalah penampilan berbagai pakaian adat khas Kalimantan Selatan:

1. Bagajah Gamuling Baular Lulut

Pakaian adat Kalimantan Selatan

Nama pakaian adat Kalimantan Selatan bisa dikatakan menggunakan nama yang unik. Salah satunya adalah pakaian adat dulu yang dijuluki Bagajah Gamuling Baular Lulut ini. Pada umumnya penggunaan pakaian adat Kalimantan Selatan terutama dipakai pada acara pernikahan. Seperti halnya dengan Bagajah Gamuling Baular Lulut berwarna perak yang sering dikenakan pada pesta pernikahan ini.

Bisa dilihat dari foto pakaian adat Kalimantan Selatan yang tertera di atas, campuran lulur baular memiliki desain yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Hanya saja, dari segi warna selalu sama. Menurut cerita, selain dipengaruhi oleh adat Banjar, pakaian ini juga dipengaruhi oleh agama Hindu.

Pengantin wanita akan mengenakan gaun yang dihiasi payet. Kemudian, sebagai aksesoris, wanita memakai ikat pinggang dan mahkota. Mahkotanya dihiasi dengan rangkaian kuncup melati, mawar, dan clematis. Kemudian pada bagian bawah, mempelai wanita akan memakai kain panjang yang berubah menjadi rok.

Sedangkan untuk mempelai pria biasanya tidak memakai pullover, melainkan hanya menggunakan aksesoris berupa celana pendek yang dipadukan dengan kain dan ikat pinggang. Aksesoris lainnya yang dikenakan oleh kedua mempelai adalah kalung samban dan mahkota kepala ular yang melingkar.

2. Baamar Galung Pancar Matahari

Pakaian adat Kalimantan Selatan

Busana adat Kalimantan Selatan selanjutnya ini juga untuk acara pernikahan. Tak jauh berbeda dengan nama baju adat Kalimantan Selatan tempo dulu, nama baju adat ini juga terbilang unik, yaitu Baamar Galung Pancar Matahari.

Sebenarnya kostum ini sudah lama diperkenalkan di daerah Banjar, namun hingga saat ini masih dikenal dan dipakai oleh masyarakat Banjar. Mengenakan gaun baamar yang bermandikan sinar matahari, pengaruh Hindu masih menyelimuti pakaian tersebut.

Dari gambaran pakaian adat Kalimantan Selatan ini, pengaruh Hindu terletak pada penggunaan mahkota dan kain bergambar naga atau kelabang. Model ini disebut model halilipan.

Kemudian, untuk lebih jelasnya, pria mengenakan kemeja lengan panjang dengan hiasan renda di bagian dada. Lalu dilengkapi dengan jaket terbuka yang senada dengan warna celana. Pada bagian pinggang mempelai pria memakai kain bermotif halilipan dan dililitkan ikat pinggang yang disebut tali.

Sedangkan untuk wanita mengenakan kemeja lengan pendek berhiaskan manik-manik dan jumbai. Ada juga aksesoris lainnya yaitu tambalan dada berbentuk segi lima yang menambah keanggunan pada tampilan mempelai wanita.

Secara umum, warna baju adat Kalimantan Selatan begitu cerah dan gemerlap sehingga sesuai dengan namanya bersinar seperti matahari. Warna-warna cerah juga sangat cocok untuk calon pengantin yang menyukai tampilan gaun pengantin yang mewah dan berkilau.

3. Pakaian adat Tanah Bumbu

Busana adat Tanah Bumbu Kalsel viral karena dipakai Presiden Jokowi saat peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni lalu.

Busana adat Tanah Bumbu merupakan busana masyarakat Pagatan, sebuah desa di Kabupaten Tanah Bumbu yang mayoritas penduduknya adalah suku Bugija.

Ciri khas dari pakaian adat ini adalah kain tenun pagat yang digunakan sebagai sarung dan laung atau penutup kepala. Di masa lalu, sarung magis pagan hanya dikenakan oleh bangsawan serangga.

Busana adat Tanah Bumbu memiliki makna filosofis tersendiri yaitu :

  • Sarung dalam pakaian tradisional berarti orang yang pandai dan pekerja keras
  • Tertawa sebagai otoritas dan kekuatan
  • Bagian dalam baju yang dikenal dengan kain bay merupakan simbol religi nusantara
  • Bagian luar baju disebut Cekak Musang tanpa kancing, yang artinya berkarakter tinggi dan menghargai perbedaan.
  • Celana menjadi simbol kesetiaan
  • Ikat pinggang adalah simbol kesederhanaan
  • Bunga emas di sisi kiri kotak adalah simbol pemimpin yang bijaksana

4. Baju Adat Babaju Kun Galung Pacinan

Pakaian adat Kalimantan Selatan

Busana adat Kalimantan Selatan Babaju Kun Galung Pacinan merupakan busana adat yang pertama kali diperkenalkan pada abad ke-19 dan bertahan hingga saat ini. dimana pakaian adat ini terus dipengaruhi oleh dua budaya yaitu budaya timur tengah dan juga budaya cina.

Perpaduan tersebut menjadikan setelan ini jauh lebih unik dan juga menarik dibandingkan dengan banyak jenis lainnya. Baju ini juga tersedia dalam beberapa warna unik dengan tambahan detail yang juga menonjol dari pakaian tradisional lainnya.

Saat masuk Islam, mempelai pria mengenakan pakaian berupa gamis dan juga pakaian tambahan yang menyerupai saudagar Gujarat.

Jangan lupa untuk menambahkan topi kopiah untuk pengantin ini. Penggunaan kopiah Alpe ini dilengkapi dengan surban atau tanjak laksamana.

Pada saat yang sama, aksesori dilengkapi dengan karangan bunga melati yang digunakan dalam kalung, serta sepatu dalam bentuk sandal, sedangkan mempelai wanita mengenakan gaun lengan panjang model cheongsam.

Kebaya ini juga dilengkapi dengan berbagai hiasan dengan manik-manik atau payet. Payet tersebut kemudian dibentuk menjadi bunga teratai dan kemudian dijahit dengan benang emas.

Di bawah, mempelai wanita mengenakan rok panjang yang juga dihiasi mutiara. Selain itu, kebaya pengantin juga disulam dengan berbagai motif tirai bambu.

Aksesoris pelengkap biasanya termasuk mahkota berhiaskan berlian, dilengkapi dengan bunga yang berayun dan jepit rambut. Jepit rambut yang digunakan juga cukup unik, dimana tusuk satenya berhuruf Arab atau huruf Hijaiyah dan burung Hong, menegaskan bahwa pakaian adat ini masih dipengaruhi budaya Timur Tengah dan Tionghoa.

5. Modifikasi pakaian adat Banjar Baamar Galung

Perkembangan busana adat yang dikenakan pada upacara pernikahan Banjari masih dalam tahap awal. Hal itu dibuktikan dengan hadirnya gaun pengantin yang satu itu yakni Banjar Baamar Galung hasil modifikasi.

Tentunya pengembangan ini bertujuan agar pakaian adat ini tetap mengikuti trend dan mode yang berkembang. Selain itu, Baamar Galung menjadi busana yang paling diminati hingga saat ini.

Apalagi saat meminta restu kerabat, Anda memilih pakaian adat ini. Selama ini banjar bisa memilih yang pertama atau yang dimodifikasi. Meski dimodifikasi, namun tidak menyimpang dari aturan baku dan keindahan alam adat istiadat yang berlaku.

Baca Juga :  Pengertian OPEC, Tujuan, Sejarah dan Anggota OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) Lengkap

Busana ini juga biasa disebut dengan busana adat Babaju Kubaya Panjang untuk mempelai wanita. Dimana pria masih memakai pakaian yang sama di bawah sinar matahari.

Sedangkan wanita yang biasa memakai dress lipit menggantinya dengan kebaya panjang. Namun hal ini disesuaikan oleh penggunanya jika ingin menonjolkan nuansa islami. Seringkali banyak juga yang memakai selendang dengan mahkota atau amar untuk hiasan. Karena sebenarnya tujuan dari kostum ini adalah agar bisa digunakan di zaman modern dan bisa berlanjut dengan zaman sekarang.

Meski dimodifikasi, tetap tidak meninggalkan aksesoris berupa karangan bunga mawar dan melati. Karena harus anda perhatikan bahwa hampir semua pakaian adat di kalimantan Selatan menggunakan rangkaian bunga ini.

Selain sebagai hiasan, kehadiran bunga mawar ini juga bisa menjadi keistimewaan. Saat ini keberadaan baju adat yang satu ini masih populer dan sering digunakan oleh pasangan yang akan menikah dengan nuansa banjaran.

6. Kain Sasirangan

Selain berbagai macam pakaian adat yang menjadi ciri khas Kalimantan Selatan ada juga kain yang merupakan produk budaya Kalimantan Selatan yang tidak kalah menarik untuk dibahas di bawah ini:

Mengutip artikel Orami.id yang juga menyebut Hikyat Banjar, kain khas Kalimantan Selatan ini sebenarnya dibuat sekitar abad ke-7 dengan nama kain Langgundi.

Menurut pesan dari mimpi ayahnya,Patih Lambung Mangkurat dari Kerajaan Dipa bertapa di atas rakit dan mengikuti aliran sungai selama 40 hari 40 malam untuk menemukan raja.

Sesampainya di Kecamatan Rantau Kota Bagantung, terdengar suara perempuan keluar dari gumpalan buih, Putri Junjung Buih, yang muncul hanya jika permintaannya dikabulkan: sebuah istana dan kain panjang yang dibuat oleh 40 gadis.

Anda dapat membangun istana dan kain jadi dalam sehari jika Anda mau. Demikianlah Putri Junjung Buih naik ke alam manusia, mengenakan kain kuning Langgundi dan menjadi raja Dipa.

Kain Langgundi sekarang dikenal dengan nama kain sasirangan. Kain Sasirangan, kain khas Kalimantan Selatan, konon memiliki kekuatan magis tersendiri. Dengan cara ini berguna baik untuk penyembuhan maupun untuk mengusir dan melindungi dari roh jahat. Kain sasirangan yang digunakan sebagai jimat dan alat pelindung disebut juga kain pamintan karena dibuat sesuai pesanan.

Kalimantan Selatan juga memiliki kain tradisional yang disebut kain sasirangan. Konon kain ini awalnya bernama kain Pamintan. Orang sakit diarahkan oleh tabib untuk datang ke Pembuat Kain. Kain kemudian dibuat untuk menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Sekarang kain Pamintan lebih dikenal dengan kain Sarangan. Nama tersebut mengacu pada kata sirang (nyirang), yang berarti mengikat atau menjahit dengan tangan, menarik atau merentangkan benang.

Seperti kain lainnya, kain Sasirangan memiliki banyak motif misalnya:

  • Sarigading
  • Ombak sinapur karang (ombak menerjang batu karang)
  • Hiris pudak (irisan daun pudak)
  • Bayam raja (daun bayam)
  • Kambang kacang (bunga kacang panjang)
  • Naga balimbur (ular naga)

Dulu, kain ini lebih sering dibuat menjadi berbagai hiasan pakaian adat, seperti:

  • Ikat kepala pria (laung)
  • Sabuk pria
  • Tapih bumin (kain sarung pria)
  • Selendang perempuan
  • Kerudung
  • Udat (kemben perempuan)
  • Kakamban (kerudung)

Di masa sekarang, kain ini dipakai pula sebagai pakaian adat, yang dikenakan semua kalangan saat mengikuti upacara-upacara adat.