Dari 1.500 anak yang disurvei persuhaan Assocham India di 10 kota besar India, 52 persen anak berusia delapan hingga 11 tahun, berada dalam kategori penggunaan internet secara berlebihan.
Dari jumlah itu, lebih dari separuh responden anak-anak mengaku menghabiskan lebih dari lima dalam sehari untuk berselancar di dunia maya.
Umumnya, aktivitas online yang dilakukan anak-anak tersebut masih positif, seperti untuk mengerjakan tugas dari sekolah, email, real time chating, serta untuk membuka situs jejaring sosial.
Selain iu ditemukan pula bahwa jumlah anak laki-laki yang kecanduan internet lebih banyak dari jumlah anak perempuan yang suka berinternet.
“Tren ini muncul terutama di kawasan perkotaan dimana biasanya kedua orang tua mereka bekerja”, kata sekretaris Assocham, DS Rawat.
Namun efek samping dari kebiasaan berinternet berlebihan bagi anak-anak kelompok usia 8-18 tahun, bisa berakibat susah tidur (insomnia), kurang peka terhadap lingkungan, dan bahkan terancam obesitas (kelebihan berat badan).
Berdasarkan simpulan dari survei itu juga, kurangnya pengawasan di rumah dan perasaan rendah diri ternyata menjadi salah satu pemicu anak-anak menjadi pecandu internet.
Agresif
REmaja yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk berselancar di internet, lebih berpeluang memiliki sikap agresif. Pada survey yang dilakukan terhadap lebih dari 9400 remaja di Taiwan, para peneliti menemukan bahwa mereka yang memiliki tanda-tanda sebagai pecandu internet mengaku setidaknya pernah memukul, mendorong, atau mengancamseseorang dalam setahun terakhir.
Hubungan antara kecanduan internet dan agresivitas tetap ada ketika peneliti memasukkan faktor lain, seperti tingkat percaya diri dan depresi, serta efek seringnya melihat kekerasan di televisi. Meski begitu, temuan yang dipublikasikan di Journal of Adolescent Health, tidak menunjukkan bukti bahwa kecanduan internet megarah ke perilaku kekerasan pada anak-anak.
Menurut Dr Chih-Hung Ko, dari Kaohsiung Medical University di Taiwan, ada kemungkinan kecenderungan kekerasan pada remaja diakibatkan karena penggunaan internet yang berlebihan. Tetapi, penemuan juga membuktikan bahwa media lain seperti televisi, film, ataupun video game, juga memiliki pengaruh besar [pada perilakuk anak.
Online chating, gambling, dan gaming serta menghabiskan waktu di forum online atau laman pornografi, seluruhnya berhubungan dengan perilaku agresif. Sebaliknya, remaja yang menghabiskan waktunya untuk berselancar di internet untuk melakukan riset dan belajar tidak memiliki Kecenderungan untuk bersikap kasar.
“Beberapa kegiatan online bisa mendorong anak-anak untuk melampiaskan kemarahannya atau menjadi agresif dengan cara yang tidak akan mereka lakukan di dunia nyata. Tetapi, apakah sikap ini yang mendorong mereka lebih agresif di dunia nyata belum jelas”, kata Ko.
Ko juga menyatakan bahwa orang tua harus memperhatikan perilaku berinternet anak remaja mereka dan potensi efek yang ditimbulkan pada perilaku sehari-hari sang anak. Orang tua sebaiknya berbicara dengan anak seputar perilaku penggunaan internet dan sikap mereka yang berhubungan dengan kekerasan.
Sumber : Tribun Pontianak (Smartmom), 10 Oktober 2010
Wah saya juga kena insomania nih. Kalo dah ngenet suka lupa tidur, tau-tau dah azan subuh dah
berarti insomnia ada sisi postifnya ya kang. jadi ga pernah kesiangan sholat subuh…. hehe
Iya juga Mas
Pingback: Kecanduan Internet Sebabkan Insomnia | GadoGado.Info
Assalamu’alaikum..malah sebaliknya gan saya insomnia gara-gara ngoprek blog. Jadi makin penasaran saja. Dulu gak kaya gini gan sebelum mengenal web-web gini. ada saran gak? Berkunjung ya gan k gubuk saya.
wa’alaikum salam. saya cuma bisa kasih saran, jangan sering-sering ngoprek mas…. hehe
Ox mas makasih sarannya…lam kenal za makasih dan si respon Koment I
bener nih, kadang2 kalo udah ngenet saya juga lupa waktu dan jadi kurang tidur. kadang karena memang keasikan ngenet tapi kadang juga karena harus menyelesaikan tugas via online. hmm, yang penting diatur aja kali ya waktunya..